Akses Transportasi Mudah, Andalan Apartemen 300 Jutaan di Bekasi - Artikel - What's On - Metropolitan Park Apartment | The First Compact City in Bekasi
Akses Transportasi Mudah, Andalan Apartemen 300 Jutaan di Bekasi
21/05/2018

Metropolitanpark.com, Bekasi – Mudahnya akses transportasi di Bekasi, Jawa Barat membuat pasar properti di wilayah ini semakin diminati seiring dengan masuknya sejumlah pengembang besar. Para pengembang tersebut, memanfaatkan adanya akses transportasi massal guna menarik segmen kelas menengah yang membeli properti. Selain itu, karena letaknya yang berada di pinggiran kota Jakarta, harga properti berupa hunian apartemen yang berdiri di wilayah ini bisa dibilang sangat murah yakni sekitar Rp 300 jutaan per unitnya.

Pemerintah kota Bekasi sedang gencar-gencarnya membenahi infrastruktur kota ini dengan melakukan pengembangan pada proyekLight Rapid Transit (LRT) Jakarta-Bekasi, kereta cepat Jakarta-Bandung, serta jalan tol Cikampek II elevated. Juga, proyek Bandara Internasional Kertajati yang jaraknya hanya 70 km dari Cikarang, serta Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang yang diproyeksikan menjadi deep seaport untuk mengurangi kepadatan antrean peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Berbagai proyek infrastruktur ini tentunya memberikan gairah baru untuk pengembangan properti. Sehingga membuat Bekasi menjadi titik yang sangat vital dalam membangun proyek properti. seiring rencana pemerintah untuk mengembangkan sejumlah moda transportasi massal ke di wilayah Bekasi, menjadikan faktor aksesibilitas sebagai pertimbangan utama untuk para pencari properti.

Dengan adanya LRT dan juga penambahan jalan tol layang di beberapa ruas untuk memperlancar arus barang industri dan juga penghuni telah membuat konektivitas antara kota Bekasi dan Jakarta menjadi lebih baik. Bekasi yang terkenal dengan kawasan industrinya juga menjadi magnet tersendiri karena mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk penduduknya. Maka tak heran jika banyak kawasan industri yang berdiri disini karena kini sudah mulai banyak yang menyediakan hunian yang terintegrasi untuk para pegawai yang bekerja di kawasan industri tersebut.


Harga hunian vertikal yang ditawarkan oleh para pengembang properti di Bekasi juga relatif terjangkau. Kawasan Bekasi ini jelas menjadi daya tarik utama para pengembang properti. Hal ini dapat dilihat dari tingginya kebutuhan akan hunian untuk para pekerja ibukota. Ketika harga hunian di Jakarta sudah tidak bisa terjangkau masyarakat kebanyakan, tentu mereka mengincar daerah pinggiran, salah satunya yaitu Bekasi.

Selama ini, Bekasi dikenal sebagai daerah industri yang macet dan panas. Bahkan, Bekasi seringkali dianggap daerah yang memiliki kemacetan paling parah dan udaranya yang panas. Padahal, kemacetan tidak hanya terjadi di Bekasi saja, namun juga di hampir seluruh wilayah Jabodetabek. Potensi yang besar juga terdapat di wilayah Bekasi Selatan jika pemerintah mau membuka lebih banyak lagi terminal bayangan di sekitar jalan tol. Nantinya, di wilayah tersebut akan semakin mempermudah akses masyarakat bila ingin menggunakan kendaraan umum.

Jika di bandingkan dengan kawasan Tangerang, harga hunian vertikal atau apartemen yang berada pada kawasan tersebut merupakan yang paling tinggi. Sepanjang 2014 hingga 2017, perkiraan harga apartemen di Tangerang tumbuh rata-rata sekitar 6,7% per tahun, disusul Jakarta 6,2%, Bogor 5,4%, dan Bekasi 4,6%. Karenanya, suplai yang tinggi dalam kurun waktu dua tahun terakhir hingga dua–tiga tahun ke depan, menyebabkan persaingan semakin ketat. Sehingga, developer enggan untuk menaikkan harga jual demi menarik calon konsumen.

Dalam kondisi kota Bekasi yang saat ini sedang memiliki perkembangan pada infrastrukturnya, maka bisa dibilang untuk sektor properti yang sedang dibangun saat ini, kenaikan harga jualnya memang tidak bisa tinggi. Para pengembang juga perlu menentukan harga yang sesuai dengan target pasar.


Contohnya adalah harga hunian untuk kalangan menengah ke bawah, harga yang ditawarkan seharusnya berada di bawah Rp 400 jutaan. Alhasil, cicilan yang diberikan perbulannya bisa menjadi sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 jutaan perbulannya. Namun, jika mematok harga di atas Rp 400 jua, maka target yang dituju seharusnya adalah kalangan menengah ke atas.

Perkiraan potensi kenaikan hargaproperti di Bekasi termasuk bagian Selatan berada pada kisaran 10 persen per tahun atau sekitar dua kali laju inflasi. Tetapi, kenaikan harga di Bekasi bisa lebih tinggi kalau lokasi strategis dan banyak peminat. Karena pada dasarnya selain harga yang sesuai, dukungan infrastruktur serta dukungan pembiayaan juga jadi daya tarik properti tersebut.

Pembangunan infrastruktur termasuk jalan tol dan LRT dengan sendirinya akan memicu pertumbuhan kawasan yang dilalui. Terlebih, apartemen kini menjadi kebutuhan utama sehingga peminatnya akan terus ada.

Daerah Bekasi yang paling berkembang adalah Bekasi Barat, kemudian disusul oleh Bekasi Timur. Bekasi Barat meliputi daerah Metropolitan Mall, Hypermall, Pekayon, hingga Galaxy. Sedangkan Bekasi Timur yang sedang berkembang adalah daerah yang bakal dilalui LRT, Jalan Chairil Anwar, dan kawasan Bulak Kapal atawa Jalan Ir. H Juanda.

Jika daya beli masyarakat sudah pulih, maka pembangunan LRT Bekasi Timur–Cawang akan menjadi nilai tambah yang bisa mendorong kenaikan permintaan serta harga properti di sekitar jalur kereta ringan tersebut. Sementara untuk pasar sewa, bisa dibilang saat ini sedang mengalami tekanan. Kenaikan tarif sewa belum bisa signifikan atau seiring dengan kenaikan harga properti. Tapi, sebagai daerah industri dengan banyak pabrik, sewa properti di Bekasi akan tetap menjadi daya tarik. (SU)